Laksa, hidangan mi sup yang kaya rempah, telah lama menjadi favorit di Asia Tenggara. Di Indonesia, variasi laksa beraneka ragam, tergantung daerah asalnya. Namun, laksa Tangerang menonjol karena sejarah dan cita rasanya yang unik, merupakan perpaduan budaya kuliner Tionghoa, Betawi, dan Sunda. Kisah menariknya, dari hampir punah hingga kini menjadi ikon kuliner Tangerang, patut kita telusuri.
Sejarah Laksa Tangerang: Dari Gerobak Keliling Hingga Kawasan Kuliner
Pada tahun 1970-an, laksa Tangerang mulai dikenal berkat para pedagang keliling. Suara khas “Laksa…Laksa…” menggema di penjuru Kota Tangerang. Mereka berjualan dari kampung ke kampung, menawarkan cita rasa unik warisan budaya Tionghoa Benteng.
Namun, seiring perkembangan zaman, laksa mulai tergeser popularitasnya oleh makanan cepat saji. Makanan yang lebih praktis dan murah ini menyebabkan laksa nyaris hilang selama sekitar 20 tahun.
Beruntung, pada tahun 2000-an, laksa Tangerang kembali muncul dan mendapatkan tempat di hati masyarakat. Pemerintah Kota Tangerang pun berperan aktif dalam menghidupkan kembali kuliner ini.
Kebangkitan Laksa Tangerang: Dukungan Pemerintah dan Cita Rasa yang Menggoda
Pemerintah Kota Tangerang membangun Kawasan Kuliner Laksa Tangerang di Jalan Mohamad Yamin. Tujuh warung laksa berjejer di tempat ini, beberapa bahkan beroperasi 24 jam. Fasilitas ini memberikan wadah bagi para penjual laksa untuk berkembang.
Para pedagang laksa di kawasan kuliner tersebut menawarkan berbagai varian. Laksa ayam kampung dengan kuah kuning pekat dan rasa pedas berempah menjadi favorit. Ada pula laksa telur dengan kuah yang lebih ringan namun tetap lezat. Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau.
Satu porsi laksa ayam kampung dibanderol sekitar Rp25.000, sementara laksa telur dihargai Rp15.000. Harga yang kompetitif ini menarik minat banyak pengunjung untuk mencicipi kelezatan laksa Tangerang.
Tantangan dan Keberhasilan Pedagang Laksa
Mang UU, salah satu pedagang laksa yang ditemui Xinhua pada Juni 2025, menceritakan pengalamannya. Sebelum pandemi COVID-19, ia mampu menjual hingga 100 porsi laksa per hari. Namun, pascapandemi, penjualannya menurun hingga sekitar 50 porsi per hari.
Meskipun mengalami tantangan, Mang UU dan pedagang lainnya tetap bersemangat. Dukungan dari pemerintah dan antusiasme masyarakat membantu mereka untuk tetap bertahan dan terus menyajikan laksa Tangerang yang lezat. Kebanyakan pedagang di kawasan tersebut mulai berjualan sekitar tahun 2010.
Cita Rasa dan Warisan Budaya Laksa Tangerang
Laksa Tangerang merupakan perpaduan unik dari budaya kuliner Tionghoa, Betawi, dan Sunda. Kata “laksa” sendiri dipercaya berasal dari bahasa Sanskerta, “laksha,” yang berarti “banyak,” merujuk pada banyaknya rempah yang digunakan.
Komunitas Tionghoa Benteng di Tangerang memiliki sejarah panjang dan telah berbaur dengan masyarakat lokal. Hal ini tercermin dalam cita rasa laksa Tangerang yang kaya dan kompleks. Cita rasa unik ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan dan pecinta kuliner.
Warisan budaya kuliner ini perlu terus dilestarikan. Dengan dukungan pemerintah dan masyarakat, laksa Tangerang diharapkan dapat tetap eksis dan menjadi kebanggaan kuliner Indonesia. Kisah laksa Tangerang menunjukkan betapa kuliner dapat menjadi jembatan penghubung budaya dan sekaligus menjadi bukti daya tahan sebuah tradisi. Semoga ke depannya, laksa Tangerang semakin dikenal luas dan dinikmati oleh banyak orang.