Pesawat Putar Balik: Penumpang Terima Kabar Duka Cita Mengejutkan

Pesawat Putar Balik: Penumpang Terima Kabar Duka Cita Mengejutkan
Sumber: Liputan6.com

Sebuah insiden unik terjadi di Bandara Internasional Luis Muñoz Marín, San Juan, Puerto Rico. Pesawat American Airlines tujuan Dallas, Amerika Serikat, terpaksa kembali ke tempat keberangkatannya hanya sekitar 30 menit setelah lepas landas. Penyebabnya? Sebuah pesan duka yang diterima salah satu penumpang.

Kejadian ini bermula dari pesan berisikan singkatan R.I.P. (Rest in Peace) yang dilihat oleh penumpang lain di sebelahnya. Karena kurangnya pemahaman dan mungkin juga kepanikan, penumpang tersebut salah mengartikan pesan tersebut sebagai ancaman terhadap penerbangan.

Pesan Duka Cita Picu Kepanikan dan Pendaratan Darurat

Laporan awal dari media lokal Primera Ahora, yang kemudian dikonfirmasi oleh juru bicara American Airlines, menyebut penerbangan American Airlines 1847 terpaksa kembali ke San Juan. Pihak American Airlines menjelaskan bahwa keputusan untuk kembali ke San Juan didasari pada adanya potensi masalah keamanan.

Kantor Bahan Peledak dan Keamanan Publik Puerto Rico menyatakan bahwa kesalahpahaman atas pesan duka cita tersebut memicu laporan ancaman bom. Penumpang yang melihat pesan R.I.P. secara otomatis menghubungkannya dengan ancaman terorisme, meskipun pesan tersebut sebenarnya merupakan ungkapan belasungkawa.

Penyelidikan dan Pemeriksaan Keamanan

Setelah mendarat kembali di San Juan, pihak berwenang melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap pesawat dan penumpang. Penumpang yang menerima pesan duka cita kemudian diinterogasi. Ia berhasil menjelaskan bahwa pesan tersebut terkait dengan meninggalnya seorang kerabat.

Setelah dipastikan tidak ada ancaman nyata, pesawat diizinkan untuk melanjutkan penerbangan ke Dallas. American Airlines meminta maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan pada penumpang. Keselamatan dan keamanan penumpang tetap menjadi prioritas utama maskapai.

Wakil direktur keamanan Aerostar, Félix Alvarado, awalnya menilai pesan tersebut sebagai ancaman potensial. Namun, setelah klarifikasi dari penumpang yang bersangkutan, terungkap bahwa tidak ada ancaman sebenarnya.

Direktur operasi Aerostar, Nelman Nevárez, menjelaskan situasi tersebut sebagai kekacauan yang ditangani sesuai protokol keamanan. Penerbangan dengan 193 penumpang tersebut akhirnya melanjutkan perjalanan setelah pemeriksaan keamanan selesai.

Perbandingan dengan Insiden Ancaman Bom di Kualanamu

Insiden ini mengingatkan kita pada kasus pendaratan darurat yang terjadi beberapa waktu lalu di Bandara Kualanamu, Sumatera Utara. Dua insiden pendaratan darurat terjadi dalam satu minggu di bandara tersebut, yang terakhir melibatkan pesawat Saudia Airlines dengan nomor penerbangan SVA5688.

Penerbangan Saudia Airlines tersebut mendarat darurat karena adanya laporan ancaman bom. Pesawat yang membawa 376 penumpang, kebanyakan jemaah haji, dan 13 kru menjalani pemeriksaan ketat oleh tim penjinak bom (Jibom).

Ancaman bom pada penerbangan Saudia Airlines diterima melalui email misterius. Evakuasi penumpang dilakukan dengan cepat dan tertib. Pihak berwenang masih menyelidiki asal-usul ancaman tersebut.

Pandangan BSSN Mengenai Deteksi Ancaman

Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Letjen TNI Purn. Nugroho Sulistyo Budi, memberikan komentar mengenai insiden ancaman bom terhadap Saudia Airlines. Ia menyatakan bahwa ancaman tersebut sebenarnya tidak sulit dideteksi.

Nugroho menjelaskan bahwa komunikasi pelaku tidak menggunakan jaringan berbasis IP (internet protocol) umum, sehingga sistem pemantauan siber mudah mengidentifikasi pola komunikasi tersebut.

Meskipun demikian, BSSN tetap bersikap serius dalam menangani setiap ancaman, mengingat potensi dampaknya terhadap sektor transportasi dan keamanan nasional. BSSN selalu menerapkan prinsip *zero tolerance* terhadap potensi ancaman.

Kedua insiden, di Puerto Rico dan Kualanamu, menunjukkan betapa pentingnya kewaspadaan dalam penerbangan. Namun, juga penting untuk memastikan bahwa setiap laporan ancaman divalidasi dengan cermat untuk menghindari tindakan yang tidak perlu dan menghindari penyebaran kepanikan yang tidak berdasar.

Pos terkait